Like ! Follow ! Home
 

BERMAIN ITU BELAJAR: bukan bermain "sambil" belajar

Bermain adalah kegiatan intrinsik alami yang dilakukan anak-anak. Kecuali saat sedang tidur, anak-anak sering tampak terlibat dengan permainan. Saat sedang mandi mereka main air atau main sabun. Pada saat sedang makan memainkan makanannya atau sendok garpunya. Bahkan saat sedang mengerjakan PR pun anak kerap menciptakan permainan sendiri yang mungkin mengalihkan perhatiannya dari PR yang ada di depannya. Mengapa anak-anak sangat tertarik dengan bermain?

Four Freedoms of Play (Empat Kebebasan dalam Bermain)

Jika dilihat lebih luas, bukan hanya anak-anak manusia yang gemar bermain. Di dunia anak-anak binatang pun, bermain menjadi kegiatan utama. Para peneliti membuktikan bahwa permainan yang dilakukan anak-anak binatang adalah cara mereka belajar untuk mempertahankan hidupnya. Anak-anak macan bermain berkelahi dengan satu sama lain, karena di masa depannya sebagai macan dewasa mereka harus bisa berkelahi dengan mangsanya. Sementara anak-anak zebra bermain berlarian di padang rumput untuk melatih kakinya agar dapat melarikan diri dari pemangsanya. Semakin tinggi inteligensi hewan tersebut, semakin banyak dan kompleks permainan yang dilakukan anak-anak hewan tersebut.

Di dunia hewan bermain sarat dengan pelajaran hidup, secara alami terjadi sebagai upaya agar sukses dalam keberlangsungan spesiesnya. Bagaimana dengan bermain di dunia anak-anak kita? 

 

Professor Scott Osterweil dari Comparative Media Studies dan Education Arcade Project di universitas terkemuka Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat, mengemukakan hasil observasinya yang menghubungkan bermain dan belajar. Beliau menyatakan bahwa dalam bermain, ada 4 kebebasan yang dinikmati anak-anak. 4 kebebasan ini diberi nama “The Four Freedoms of Play”: 

1. Freedom to Experiment/Explore (Kebebasan Bereksperimen atau Bereksplorasi)

Permainan sarat dengan berbagai percobaan atau eksperimen yang dilakukan anak-anak tanpa mereka sadari. Peraturan permainan yang anak-anak ciptakan adalah serangkaian hasil eksperimen yang kerap berubah sesuai dengan berjalanannya permainan tersebut. Dalam dunia permainan sering kali tidak ada yang salah dan benar, namun yang ada hanyalah yang lama dan yang baru. Anak-anak selalu menemukan hal-hal baru saat bermain karena bebas bereksperimen dan bereksplorasi. 

2. Freedom to Fail (Kebebasan Untuk Gagal)

Dalam bermain anak-anak cenderung lebih tidak takut salah atau gagal. Di sini anak belajar bahwa kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari hidup, dan yang terpenting, bagian dari proses belajar, agar menjadi lebih baik. Selama kesalahan atau kegagalan tidak disertai dengan hukuman, anak akan terus berani mencoba dan mencoba.

3. Freedom of Identity (Kebebasan Identitas)

Anak-anak sangat senang bermain berpura-pura, karena itu permainan lapangan seperti kejar-kejaran antara polisi dan penjahat hingga permainan Role-Playing Games (RPG) dalam komputer sangat digemari. Bermain menjalani peran seseorang yang bukan dirinya sendiri memberikan anak kesempatan mengembangkan imajinasi menjalani karakter, perspektif, hingga berempati pada sosok individu di luar dirinya sendiri. Dalam kebebasan identitas ini, anak dapat berganti peran, memilih peran, dan menemukan berbagai karakter yang cocok dan tidak cocok dengan dirinya. Anak belajar memahami diri dan memahami orang lain.

4. Freedom of Effort (Kebebasan dalam Berusaha)

Dalam bermain anak-anak bebas untuk memberikan usaha yang minimal atau maksimal atau sedang sesuai dengan motivasinya dalam permainan tersebut. Tidak ada paksaan sehingga anak bebas menentukan apa yang mau dilakukannya, bagaimana, dan karena apa. Motivasi itu datang dari dalam diri sendiri dan memberi hasil sesuai usaha yang diberikannya pada kegiatan tersebut. Di sini anak dapat belajar mengenal potensi dan kemampuan apa yang ada dalam dirinya.

Kebebasan untuk BELAJAR

Keempat kebebasan ini, menurut Professor Scott Osterweil, adalah empat komponen utama dari sebuah kegiatan yang sangat penting yaitu BELAJAR. Jika kebebasan ini dihalangi, proses belajar pun terhambat. Dalam pengamatannya, anak-anak belajar sangat banyak dari berbagai kegiatan bermain, terutama hal-hal yang sangat penting dan bermanfaat dalam kesuksesan hidupnya. Sayangnya, anak-anak masih sering dianggap sedang belajar hanya jika berada di sekolah atau saat mengerjakan tugas sekolah di rumah. Tidak jarang orang tua kuatir jika anak-anak tidak terlihat mendapat PR yang dari sekolah. Padahal dalam kenyataannya anak-anak lebih banyak belajar untuk kelangsungan hidupnya saat bermain. 

Ajak Anak Mencipta Permainan

Mengambil nasihat dari Prof. Osterweil, di Clevio Coder Camp anak-anak diberi kebebasan menciptakan berbagai permainan edu-game bersama dalam kelompok. Dengan game sebagai motivasi, anak-anak bebas bereksperimen dan berkreasi membuat berbagai topik pelajaran menjadi seru dengan computer programming, belajar bekerja sama, dan menjadi technopreneur cilik. Untuk informasi lebih lanjut silahkan kunjungi www.clevio.co atau hubungi 081212860444 / camp@clevio.co.